TANGAN DIATAS ala KANG EMIL

kang emil

Ayo dukung program Ayo Bayar Zakat untuk menihilkan kemiskinan di Negeri ini. Ini isi hati saya.

Saya bukan ustad. Apalagi Kiayi. Saya adalah pelajar kehidupan. Ijinkan saya menyampaikan gagasan tentang konsep kesetiakawanan sosial dalam Islam. Konsep tentang membayar Zakat.

Menurut riset, jika semua umat Islam di Indonesia membayar zakat nilainya 200 trilyun per tahun. Namun yang dikelola oleh lembaga amil zakat ternyata hanya 3 trilyun-an per tahun. Hanya 1,5 persen.
Mungkin ada yang langsung mengurus sendiri penyalurannya. Namun banyak pula yang tidak pernah bayar zakat. Dengan alasan lupa atau pura-pura lupa. Ada juga yang beralasan tidak paham dan merasa ribet. Ada pula yang beralasan “kan sudah bayar pajak”. Padahal ini rukun Islam yang ketiga. Wajib hukumnya.
Mari kita bayangkan. Jika semua taat membayar kewajiban 2.5 % pembersihan harta ini, kemiskinan di masyarakat kemungkinan bisa hilang. 50 ribu keluarga miskin di Bandung bisa dibantu dengan sistem setia kawan ini. Sebuah definisi madani. Masyarakat madani adalah ketika masalah keumatan diselesaikan oleh kemandirian umat itu sendiri.
Menurut Pak Kiayi, jangan mengaku muslim jika rajin salat tapi tidak bayar zakat. Seperti pesan surah Al Maun, jika masih ada fakir miskin terlantar maka salat kita hampa makna. Jika masih banyak anak yatim tidak terurus di sekeliling kita, berarti kita ini kaum yang mendustakan agama. Sia-sia.

Karena itu Pemkot Bandung melakukan program himbauan “Ayo Bayar Zakat” kepada umat Islam di kota Bandung. Yang diorganisir oleh kekompakan macam ragam pengelola zakat dalam koordinasi Pemkot. Ada websitenya, ada akun FB dan Instagram nya dan ada apps di smartphone untuk transaksinya.
Pemkot Bandung akan mendefinisikan ragam kebutuhan dalam program pengentasan kemiskinan ini. Tim “Ayo Bayar Zakat” akan berkampanye. Akan mengatur kemudahan informasi dan transaksi melalui apps yang dihadirkan di smartphone.
Pembayar zakat bisa memilih jenis bantuan, dan bisa memilih lembaga yang ia percayai atau ia suka. Hasil bantuan akan diposting ke akun si pembayar zakat. Di apps ini ada juga tombol untuk meminta bantuan ambulance gratis. Total ada 25 ambulance gratis siap pakai.
Bayangkan jika 200 trilyun rupiah per tahun uang zakat itu benar bisa hadir di negeri tercinta ini, maka kemiskinan rutin bisa dientaskan dengan cara-cara kekinian seperti program ala Mak Comblang ini. Kita butuh orang-orang baik bertemu dengan sistem yang baik.
***
Semakin ke sini saya semakin percaya, bahwa tujuan negeri adil makmur ini ternyata akan cepat sampai jika ‘civil society’ nya kokoh. Sistem kesetiakawanan sosial ala pengelolaan Zakat yang profesional lah salah satu konsepnya. Umat kompak, umat selamat.

Pembayar zakat disebut golongan Muzakki. Penerima zakat disebut golongan Mustahik. Maka nanti pembayar zakat yang gabung ke sistem pemkot ini akan diberi kartu Muzakki. Dan penerima zakat rutin akan diberi kartu Mustahik, dengan sedikit tulisan motivasi “suatu hari saya akan muzakki”. Karena tangan di atas lebih mulia dari tangan di bawah.
Jika si Cinta adalah Mustahik dan Rangga adalah Muzakki, mungkin ada adegan film dengan kalimat ini: “Ranggah… apah yang kamuh lakukan ke sayah itu…Zakat”
Mari berzakat. Mari berikhtiar, sampai suatu hari, semua dari kita adalah Muzakki.

Hatur Nuhun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *